Miles Stone JPMI

Semangat Membantu Umat Islam di Indonesia untuk memegang kendali kekuatan ekonomi dan membangun perekonomian nasional dengan nilai-nilai akhlak Islam pada diri pengusaha Muslim

Pengurus JPMI berpose bersama Bpk. Jusuf Kalla

Pengurus JPMI Wilayah Bali bersama dengan pengurus JPMI Kota Denpasar dan pengurus JPMI Daerah Badung, berpose bersama Bpk. Jusuf Kalla dalam pelantikan pengurus JPMI daerah Denpasar dan Badung di hotel Aston, Denpasar.

Slide 2 Code End -->

Sabtu, 14 Januari 2012

BB XIV: Dalami dan Fokus dalam Usaha

Mengawali BB JPMI di tahun 2012, Bpk Kusnandar, pengusaha Martabak memulainya dengan memandu para peserta dalam tema Dalami dan Fokus dalam Usaha. Bertempat di sekretariat JPMI, acara yang digelar pada tanggal 13 Januari 2012 ini, merupakan lanjutan dari rangkaian acara BB JPMI yang digelar oleh JPMI Wilayah Bali setiap dua minggu sekali.


Bpk. Kusnandar sedang menyampaikan materi


MENDALAMI BISNIS ADALAH PRAKTEK

Dalam bisnis, membaca paduan bisnis dari banyak master, mengikuti seminar-seminar bisnis, dan mendalami segala pengetahuan tentang bisnis, adalah hal yang lumrah. Dan bisa jadi, kita menjadi sangat pandai dalam hal itu. Tetapi, jika hanya membaca dan mempelajari tanpa disertai praktek, penghasilan tidak akan mengalir ke kantong kita. Apapun ilmunya, pada akhirnya ilmu tersebut harus dipraktekkan. 

Memahami sebuah teori ilmu itu gampang, tetapi mempraktekkan teori tersebut tidaklah mudah. Mengapa? Karena hal ini terkait dengan masalah emosi. Meskipun kita sudah memahami teori tersebut, dibutuhkan waktu untuk menguasainya dalam praktek, terutama menguasai kesabaran. 

Memang pada kenyataannya, tidak semua pembahasan tentang bisnis bisa dipraktekkan. Ada kalanya ilmu itu dipelukan untuk sehari-hari (praktek), adakalanya pula ilmu itu memang untuk ilmu itu sendiri (teori). Jadi, pengetahuan apa yang dibutuhkan untuk kepentingan bisnis? Jawaban dari pertanyaan adalah praktek, jangan ditunda-tunda. Praktek tidak perlu pendalaman ilmu. Yang dibutuhkan dari praktek adalah kontinuitas

Jika ilmu bisnis yang memang dibutuhkan itu, hanya dikaji dan didalami tanpa dipraktekkan, hal tersebut adalah kesalahan besar yang akan menghancurkan bisnis kita. Ada banyak faktor yang menghambat ilmu tersebut untuk dipraktekkan, salah satunya adalah TAKUT. Ketakutan itulah justru yang akan menghancurkan bisnis kita.



FOKUS

Jika Anda mempunyai hasrat apapun untuk menjadi kaya, Anda harus fokus 
(Tung Desem Waringin)


Kekuatan fokus dalam memajukan bisnis sangat berpengaruh karena fokus akan menghasilkan energi luar biasa yang akan memunculkan terobosan baru guna memberikan solusi masalah yang lebih efektif. Enggak Fokus = Gagal. 

Ada beberapa cara supaya kita bisa lebih fokus dalam bisnis

1. Segera Cari Bisnis yang sesuai dengan Anda
Jangan terlalu lama berpikir. Begitu melihat peluang, segera ambil. Kesempatan tidak datang dua kali. Pertimbangkan juga ceruk pasar dan kemungkinannya untuk berkembang dalam masa mendatang

2. Segera temukan dan jalankan dengan serius 
Serius di sini bukan dalam hal kuantitas, tetapi dalam hal kualitas. 

3. Bertahan   
Memulai bisnis tidak semudah membalik telapak tangan. Dibutuhkan konsistensi, belajar, dan cari terobosan. Apapun bisnisnya, permasalahan-permasalahan yang dihadapi kurang lebih sama. Jangan cepat menyerah, karena begitu masalah yang satu terselesaikan, masalah-masalah yang lain akan lebih mudah diselesaikan.

4. Penuhi Target
Target-target yang sudah dibuat, usahakan untuk dapat dipenuhi. Tuliskan target tersebut dengan jelas, sehingga akan menjadi mudah bagi kita untuk mencapainya.

5. Melakukan Evaluasi 
Evaluasi merupakan faktor penting bagi bisnis. Dengan evaluasi, kita bisa memperbaiki apa yang kurang, mempertahankan apa yang sudah baik dan sudah dicapai. Terus belajar dan berkonsultasi dengan ahli.



Para peserta serius mendengarkan pemaparan dari P. Kusnandar

Meskipun cuaca tidak terlalu bagus, tetapi antusiasme peserta untuk mengikuti BB JPMI ini begitu tinggi. Belasan orang hadir dalam acara ini. Kesempatan sharing pun dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta pada BB JPMI ini. 




Jumat, 23 Desember 2011

BB JPMI XIII: Profesional dalam Bisnis

Menutup tahun 2011, JPMI Wilayah Bali kembali mengadakan BB. Acara rutin dwimingguan yang diadakan di sekretariat JPMI Bali ini, diadakan pada hari Jumat, 23 Desember 2011. Pada BB XIII ini diangkat tema Profesional dalam Bisnis. BB kali ini dipandu oleh Bpk Eko Teguh.


Bpk. Eko Teguh saat menyampaikan materi


Dalam kesempatan ini, pak Eko, sapaan akrab pria ini, menggaris bawahi bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah Jujur dan Amanah. Jujur dan amanah di dalam 3 hal yang umum di bisnis, yaitu Sistem, Finansial, dan SDM. 

Menjalankan usaha itu, seperti halnya kita mendorong komidi putar. Pada awalnya akan terasa sangat berat. Tetapi, begitu komidi putar ini berjalan, dibutuhkan dorongan yang tidak terlalu berat. Dan pada akhirnya, pada saat komidi putar ini berlari kencang, komidi putar tersebut tetap harus didorong meskipun mungkin mendorongnya hanya dengan sentuhan. Bagaimanapun kencangnya komidi putar, jika tidak didorong, lama kelamaan akan berjalan lambat dan pada akhirnya akan berhenti. Hal ini sama dengan bisnis. Pada saat awal kelahiran bisnis, dibutuhkan tenaga yang banyak dan ekstra agar bisnis kita berjalan. Seiring dengan perkembangan bisnis tersebut, semakin lama tugas owner menjadi semakin sedikit karena sudah didelegasikan kepada karyawan. "Namun tetap, menurut saya, sebagai pengusaha kita tidak boleh berleha-leha dan meninggalkan usaha kita, meskipun sistem sudah berjalan. Tetap perlu 'sentuhan' dan control dari kita supaya usaha tersebut tetap berjalan. Ya seperti komidi putar itu. Itulah profesional dalam sistem", kata beliau. 

Untuk masalah finansial, beliau mengingatkan untuk meninggalkan sistem laci. Sistem laci adalah berapa ada uang di laci langsung diambil untuk kebutuhan, terutama kebutuhan konsumtif, tanpa memperdulikan perhitungan.

Sedangkan untuk SDM, beliau memberikan tips untuk berani menggaji orang-orang yang memang capable di bidangnya. Banyak perusahaan yang sudah profitable, tetapi terkadang owner-nya terlalu pelit untuk menggaji karyawan, sehingga hanya memanfaatkan SDM seadanya. SDM merupakan salah satu aset perusahaan. Apabila pengusaha tersebut ingin usahanya berkembang, maka dia juga harus memperhatikan SDM-nya. Memberikan pengetahuan dan menyekolahkan atau mengkursuskan SDM juga merupakan sebuah keharusan jika perusahaan tersebut ingin berkembang. "Memang, sebagai pengusaha, terkadang masih berpikir untung ruginya mendidik karyawan. Biasanya, ketakutan pengusaha adalah nanti setelah disekolahkan dan diberikan pengajaran karyawan tersebut berhenti dan pindah ke tempat lain. Ini adalah resiko. Jika usaha mau berkembang, karyawan harus diberikan pendidikan dan pengetahuan. Jika tidak, akan sulit bagi usaha itu untuk terus berkembang. Jika memang setelah diberikan pendidikan, karyawan tersebut mengundurkan diri, cari lagi karyawan lain, dan didik lagi", demikian kata beliau.

BB yang rutin dilakukan oleh JPMI ini, selain menghadirkan pembicara juga merupakan ajang bagi para peserta untuk sharing, baik ilmu maupun masalah. Dengan hadirnya beberapa pengurus inti yang juga pengusaha yang sangat kompeten di bidangnya, BB kali ini berjalan seru dengan sharing-nya beberapa peserta. Pada tahun 2012, BB JPMI tetap akan diadakan, dengan topik dan pembicara yang lebih seru. Kehadiran Anda ditunggu di sini!







Sabtu, 10 Desember 2011

BB JPMI XII: Bagaimana Berhubungan dengan Bank



Hari Jumat, 9 Desember 2011, JPMI Wilayah Bali kembali menggelar BB JPMI. Bertempat di Sekretariat JPMI, Jl. Pulau Tarakan 3A, acara yang dipandu oleh Bpk. Teguh Iswanto ini, membahas tentang Bagaimana Berhubungan dengan Bank. Acara ini merupakan acara ke 12 dalam rangkaian acara rutin BB JPMI yang diadakan setiap minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya.


Bpk. Teguh Iswanto in action


Dalam acara ini, Bpk. Teguh Iswanto memberikan tips tentang prinsip dasar 5C untuk mendapatkan permodalan dari Bank, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Social, Economy, and Environment.

1. Character
Dalam menilai seorang nasabah layak atau tidak dalam mendapatkan kredit, bank terlebih dahulu melihat kepada karakter, apakah nasabah tersebut berkarakter baik atau kurang baik. Sebelum mencairkan kredit, bank akan mencari informasi dari saudara, kerabat, teman, dan lain-lain untuk mengetahui karakter nasabah. Selain itu, bank yang didukung oleh Bank Indonesia, juga mempunyai sebuah sistem yang bisa menampilkan karakter seseorang, yang terangkum dalam BI Checking. Dalam BI Checking akan terlihat jelas semua record nasabah, apakah nasabah tersebut bermasalah atau tidak. Bahkan, dalam sistem terbaru, BI checking juga bisa mendeteksi record di luar perbankan, seperti tagihan listrik, telepon, dan lain-lain. Seseorang yang mempunyai karakter yang bermasalah, akan bermasalah pula berhubungan dengan bank, meskipun mempunyai asset (collateral) yang banyak, karena bank tidak mau mengambil resiko terlalu tinggi.

2. Capacity
Capacity / Kapasitas adalah penilaian terhadap kapasitas usaha yang saat ini dijalankan, dan bagaimana potensi perkembangannya ke depan. Hal ini lebih cenderung kepada kerapian pencatatan (akuntansi). Apabila kapasitas seseorang atau perusahaan baik, maka akan dengan mudah untuk mendapatkan kredit dari bank.

3. Capital
Bank juga menilai nasabah dari capital / modal, yaitu kemampuan untuk menyediakan modal sendiri (self financing), sehingga pada saat mengalami stagnasi usaha, masih mempunyai aset untuk membayar hutang. Salah satu bentuk capital yang juga dipertimbangkan oleh bank adalah Piutang (tagihan kepada customer). Karena itu, pencatatan sangat mempengaruhi penilaian bank terhadap nasabah.

4. Collateral
Collateral atau agunan adalah aset yang bisa diagunkan ke bank untuk mendapatkan pinjaman. Collateral ini bisa berupa fixed aset, maupun rekomendasi, baik dari perseorangan maupun dari organisasi. Apabila seseorang yang telah mendapat kepercayaan dari bank merekomendasikan seseorang yang lain, ini sudah bisa menjadi bagian dari collateral. Termasuk JPMI Wilayah Bali. Saat ini JPMI Wilayah Bali telah bekerjasama dengan dua Bank Syariah di Bali, yaitu Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat. JPMI Bali bisa merekomendasikan anggota JPMI yang telah dikenal baik (lihat Caracter di atas) untuk mendapatkan pinjaman dari bank.

5. Condition of Social, Economy, and Environment
Kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap pertimbangan bank dalam mengucurkan kredit. Apabila terjadi situasi dan kondisi yang tidak kondusif, baik di internal perusahaan maupun secara umum, maka bank tidak akan mencairkan kreditnya.

Pada BB JPMI kali ini, tampak hadir pengurus inti JPMI Bali, yaitu ketua JPMI Bali, Bpk. Mardi Soemitro, Wakil Ketua JPMI Bali, Bpk. Pinto Wahyudi, Sekretaris JPMI Bali, Bpk. Firdaus Yulianto, Bendahara JPMI Bali, Bpk. Budianto, dan beberapa pengurus lainnya. BB JPMI selanjutnya, Insya Allah akan diadakan pada hari Jum'at, 23 Desember 2011.


Sebagian peserta yang hadir pada BB JPMI XII



Sabtu, 03 Desember 2011

Sukses! JPMI Business Chalenge menginspirasi ratusan peserta



JPMI Wilayah Bali sukses melaksanakan JPMI Business Chalenge: Membuat Bisnis Menggurita, hari ini (Sabtu, 3 Desember 2011). Bertempat di Fave Hotel, Jl. Teuku Umar Denpasar, acara yang menghadirkan dua pembicara ini, Gusti Ngurah Anom atau Pak Cok owner dari Krisna Oleh-Oleh Bali dan H. Mardi Soemitro owner Master Gym group, berhasil menginspirasi ratusan peserta yang antusias datang. 

"Acara ini merupakan salah satu acara yang rutin dilaksanakan oleh JPMI Bali selain acara rutin lainnya, seperti BB JPMI. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dan komparatif bagi anggota JPMI", demikian sambutan ketua panitia, H. Pinto Wahyudi, pada saat pembukaan acara.



Pak Cok sedang menjawab pertanyaan dari peserta


Pada sesi pertama, Pak Cok menceritakan pahit getirnya perjuangan beliau sehingga bisa menjadi sukses dan mempunyai usaha Krisna Oleh-oleh Khas Bali yang mempunyai banyak cabang seperti sekarang. Pria lulusan S2 ini (SD dan SMP) mengisahkan, berawal dari ketidakmampuan kedua orangtuanya untuk menyekolahkan dirinya, dirinya nekat menuju Denpasar untuk mengadu nasib. Awalnya, beliau menginap di pos satpam dan menjadi tukang cuci mobil untuk kehidupan sehari-hari. Selama kurang lebih 2 tahun beliau menjalani profesi ini, sampai akhirnya beliau kemudian bekerja di Siddharta Konfeksi. di sini beliau belajar banyak tentang konfeksi kepada Bapak Siddharta yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri. 

Akhirnya dengan keberanian dan keyakinan diri yang tinggi, beliau membuka usaha sendiri, dengan label Cok Konfeksi. Karena kegigihannya, Cok Konfeksi berkembang menjadi sebuah usaha yang besar, bahkan mengalahkan Siddharta Konfeksi, tempatnya belajar dulu. Pada 2007, terbersitlah ide untuk membuat sebuah toko Oleh-Oleh khas Bali. Melihat potensi pariwisata yang ada di Bali dan melihat potensi pasar oleh-oleh Bali yang paling laku, yaitu kaos bali, berdirilah Krisna Oleh-Oleh Khas Bali. Awalnya Krisna Oleh-Oleh Khas Bali berada di Jl. Nusa Indah. Pada tahun 2008, 2009, dan 2010, Pak Cok mengembangkan usahanya pada setiap tahunnya dengan membuka cabang. Dan bahkan, pria yang sangat inovatif ini, membuka pusat Oleh-Oleh Khas Bali yang buka 24 Jam. Saat ini Krisna sedang merencanakan untuk membuka 4 cabang lagi, yang rencananya akan terlaksana pada tahun 2012.



P. Mardi Soemitro sedang berdialog dengan audience


Pada sesi kedua, Pak Mitro menyapa audiens dengan semangat yang berapi-api. Pria Kelahiran Medan yang mempunyai banyak tempat fitness ini, mempresentasikan Faktor-Faktor internal dan eksternal yang bisa mempengaruhi kesuksesan seseorang. Faktor internal antara lain adalah mental seseorang mulai sejak anak-anak sampai dewasa. Beliau menyampaikan kesulitan hidup yang dialaminya sebagai contoh. Setelah lulus SD, beliau berhenti selama 1 tahun, tidak melanjutkan ke SMP karena kedua orang tuanya tidak sanggup membiayainya. Setiap pagi, setiap melihat teman-temannya sekolah, beliau meneteskan air mata saking pengennya sekolah. Akhirnya, karena kegigihannya, beliau bisa sekolah SMP dengan mendapatkan beasiswa.

Impian juga merupakan faktor internal pendorong kesuksesan seseorang. Berani bermimpi dan mendobrak batas diri. "You can if you think you can", demikian kata beliau mengutip salah satu judul buku. Di dalam pikiran kita, ada tembok yang membatasi yang menyebabkan seseorang menjadi lemah, tidak percaya diri dan merasa tidak bisa sebelum mencoba. "Kita harus meruntuhkan tembok itu untuk mencapai keberhasilan", ujarnya. Sedangkan untuk faktor eksternal, keluarga dan karyawan adalah salah satu faktor penentu keberhasilan. Keluarga dan karyawan yang mendukung penuh, akan menjadi motivasi bagi sebuah usaha untuk terus berkembang. 


Peserta Membeludak


Peserta yang hadir cukup banyak


Pada Business Chalenge kali ini, antusias anggota JPMI dan masyarakat umum untuk mengikuti acara ini sangat tinggi, bahkan tempat yang disediakan panitia sampai tidak mencukupi. Sekitar 200-an peserta hadir dalam acara yang dimoderatori oleh Khusnandar. Selain peserta, pengurus, penasehat dan expert assosiate JPMI Bali turut hadir di dalam acara ini. 

Kejutan: Doorprize Blackberry Dakota dari Pak Cok

Pada akhir acara, panitia membagikan beberapa doorprize kepada peserta yang beruntung. Pada saat pak Cok diminta untuk mengambil tiket pemenang, secara spontan pak Cok mengutarakan ingin memberikan doorprize berupa Blackberry Dakota. Peserta yang hadir langsung bertepuk tangan dan antusias untuk mengikuti pengundian ini.

Peserta yang beruntung mendapatkan Blackberry Dakota



Acara ini akhirnya ditutup pada jam 13.00 WITA. Acara yang lebih seru dan lebih menginspirasi akan dilaksanakan pada waktu-waktu mendatang. Kehadiran Anda ditunggu!

Selasa, 29 November 2011

Kesuksesan Buah Kesabaran & Kegigihan

Oleh: Mardi Soemitro, Ketua JPMI Bali


Bapak, ibu, saudaraku semua... Insya Allah kita semua paham akan kalimat ini, "Sesungguhnya tidak ada kata gagal, yang ada adalah ketika kita berhenti untuk mencoba". Persoalannya adalah bagaimana kita menyadarkan hati dan pikiran kita untuk tetap sabar dan gigih mencoba untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Disinilah kata kuncinya, bersabar dengan penuh kegigihan. Untuk lebih memahaminya mari kita simak 3 kategori tipe manusia dalam memperjuangkan cita-citanya:

1. Orang yang tidak punya kesabaran
Mereka selalu tergesa-gesa dan menginginkan kepuasan yang instant. Keberhasilan yang segera. Oarang seperti ini selalu ngedumel dan marah dalam setiap proses pencapaian. Hal-hal kecil bisa jadi persoalan. Ia akan membuang setiap kesempatan sebelum benar-benar memberi waktu pada peluang untuk bisa dikembangkan. Proses belajarnya selalu berpindah-pindah dari satu bidang ke bidang lain sehingga tidak pernah fokus belajar pada satu bidang dengan sungguh-sungguh. Ia pun tidak pernah menjadi ahli dalam salah satu bidang tertentu. Sebagai contoh, sekarang jualan bakso, tidak lama kemudian jualan computer, setelah itu usaha laundry. Berikutnya buka bengkel. Akhirnya tidak ada satupun yang berhasil karena semua tidak ada yang dipahami. Yang lebih bahaya lagi ada orang yang tidak sabar ingin punya banyak uang dengan cara - maaf - merampok, nunggu warisan, main undian, dll. yang akhirnya akan menghancurkan hidup dan menjadikan sebagai pecundang.

2. Orang yang sabar biasa
Orang seperti ini sudah cukup puas akan hasil yang diperolah tanpa harus ngedumel atau marah-marah. Selalu merasa puas dengan hasil yang diperoleh hari ini tanpa ada target untuk mencapai yang diinginkan. Ia akan menjalani dengan santai, kalau tidak selesai hari ini akan dikerjakannya esok hari. Orang seperti ini tidak punya motivasi tinggi dan antusiasme dalam meraih sesuatu. Kalau dalam bahasa Jawa yang sangat terkenal dengan semboyan "alon-alon asal kelakon". Ia akan menjalani hidupnya engan apa adanya, pelan-pelan asal terlaksana. Tidak mau ambil resiko. Sikap dan pandangan hidupnya lebih terkesan status quo. Ia bukan tipe orang yang menyusahkan orang lain tetapi justru malah dihormati, tetapi yang jelas bukan orang yang dikagumi. Orang seperti ini akan memulai usahanya tanpa semangat dan target yang tinggi walaupun ia cukup sabar untuk bertahan dan akhirnya memahami bidang usahanya sehingga usahanya tergolong cukup lancar bahkan maju, namun ia tidak punya keinginan dan cita-cita yang tinggi untuk berusaha mengembangkannya menjadi lebih besar lagi. Ia hanya menjalani apa adanya saja. "Alon-alon asal kelakon".

3. Orang yang sabar dan gigih
Orang seperti ini sangat istimewa dan berbeda sekali dibanding dengan dua tipe sebelumnya. Ia punya cita-cita setinggi langit dan faham bahwa semua butuh waktu, akan berusaha semaksimal mungkin mempersingkat proses dengan seefektif dan seefisien mungkin. Ia tidak hanya dihormati tetapi sangat dikagumi. Selalu optimis, antusias dan punya keyakinan yang tinggi dalam menggapai cita-citanya. Mari kita ingat kisah luar biasa bagaimana Thomas Alfa Edison yang dengan kesabaran dan kegigihan telah menemukan bola lampu. Masih banyak lagi contoh pengusaha-pengusaha yang masing-masing memiliki kisah sukses hasil kesabaran dan kegigihan mereka. Semoga bermanfaat. Sukses selalu dunia akhirat.

Diambil dari majalah Madani Edisi 51 Th. VIII/Agustus 2011